Loading...

Tips Sukses: 7 Pelajaran Paling Berharga dalam Hidup


Pada artikel ini Anda akan belajar tentang 7 pelajaran paling berharga dalam hidup.

Jika Anda mengikuti pelajaran ini, saya yakin dapat mengubah hidup Anda selamanya.

Pelajaran berharga ini, sebagian besar datang dari orang-orang sukses di seluruh dunia.

Jika Anda ingin sukses dalam hidup, maka Anda akan menyukai artikel ini.

Mari kita mulai.

 

Pelajaran #1: Tetaplah lapar, tetaplah bodoh

Steve Jobs, CEO Apple, inc 1955-2011 menyampaikan nasehat bijak yaitu:

“Stay hungry, stay foolish” yang artinya “Tetaplah lapar, tetaplah bodoh”.

Orang yang lapar akan melakukan apapun untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan dan orang yang merasa bodoh akan melakukan apapun untuk menjadi pintar.

“Tetap merasa lapar” akan membuat Anda terus berusaha dalam hidup tidak peduli seberapa sulit prosesnya.

“Tetap merasa bodoh” akan membuat Anda terus belajar dan terus tumbuh.

Jadi, tetaplah lapar, tetaplah bodoh akan membuat Anda terus berusaha dan terus tumbuh.

Ini adalah pondasi yang sangat luar biasa jika Anda ingin sukses dalam hidup dalam bidang apapun.

Anda tidak akan bisa sukses jika Anda tidak berusaha, dan Anda juga tidak bisa sukses jika Anda berhenti belajar dan tumbuh.

 

Pelajaran #2: Miliki visi yang jelas

Untuk meraih kesuksesan dalam hidup, Anda harus memiliki visi yang jelas.

Visi merupakan arah hidup Anda. Jika Anda tidak memiliki visi yang jelas, itu artinya Anda tidak memiliki arah hidup yang jelas.

Anda boleh saja memiliki kapal terbaik di dunia, akan tetapi jika kapten kapal Anda tidak tahu arah kemana akan pergi, maka Anda hanya akan terombang-ambing ditengah lautan.

Mungkin terdengar kejam, tapi itulah faktanya.

Saya mendapatkan ide ini dari Arnold Schwarzenegger, seorang aktor, binaragawan, politikus Partai Republik, dan pengusaha yang menjabat sebagai Gubernur California ke-38 dari tahun 2003 hingga 2011.

Saat pertama kali saya mendengar nasehat ini dari Arnold, saya merasa mendapatkan tamparan yang sangat keras yang membuat saya sadarkan diri.

Setelah itu, saya mulai menentukan visi yang jelas dan hidup saya berubah secara dramatis.

Satu per satu visi saya mulai tercapai dan terus bersemangat untuk menentukan visi selanjutnya.

Visi yang jelas adalah salah satu cara terbaik yang pernah saya temui untuk tetap fokus pada proses.

Visi yang jelas juga memberikan kekuatan untuk mengatakan “tidak” pada sesuatu yang tidak relevan dengan visi tersebut.

Dan itu benar-benar luar biasa.

 

Pelajaran #3: Lihat apa yang Anda inginkan

Salah satu hal yang memperlambat seseorang meraih kesuksesan adalah salah fokus.

Biarkan saya ceritakan cerita singkat:

Beberapa tahun yang lalu, saya berkesempatan berkunjung kerumah teman saya yang sudah 2 tahun tidak bertemu.

Saya sengaja berkunjung secara dadakan dan tanpa pemberitahuan sebelumnya.

Dengan begitu, saya dapat melihat kemajuan apa saja yang dimilikinya selama 2 tahun terakhir.

Beberapa menit menjelang sampai kerumahnya, tiba-tiba hujan lebat di sertai petir yang menyambar.

Sesampai dirumahnya, saya sedikit basah dan sedikit kedinginan.

Kemudian, saya melihat pintu depan rumahnya terbuka dan saya langsung mengucapkan salam dan melihatnya sedang merokok bersama teman-temannya didalam rumah tersebut.

Dari sana saya telah dapat mengetahui bahwa tidak banyak perubahan yang terjadi pada dirinya.

Hujan deras dan suhu dingin membuat saya dapat mencium aroma martabak mesir dari kejauhan.

Kemudian saya menoleh kebelakang, dan tepat di seberang jalan ada penjual martabak mesir yang sedang melayani pelanggan.

Untuk merayakan pertemuan dengan teman saya yang telah 2 tahun tidak bertemu, martabak mesir adalah jawaban yang tepat waktu itu.

Saya pun memulai dialog:

Saya              : “Bro, mau bantu saya belikan martabak mesir di depan sana?”

Teman Saya  : “Hujan lebat, Bro..”

Saya              : “Saya yang traktir.”

Teman Saya  : “Hujan lebat, Bro..”

Saya              : “Saya yang traktir.” (ulang saya)

Teman Saya  : “Hujan lebat Bro., dan saya nggak punya payung.”

Saya              : “Saya yang traktir.” (ulang saya lagi)

Teman Saya  : “Saya mau, tapi hujan lebat sekali.”

Akhirnya, saya melihat tetangga disebelah lagi duduk di luar menikmati secangkir kopi.

Kemudian saya meminjam payung tetangga dan kemudian membelikan martabak dan akhirnya kita makan martabak bersama dengan sensasi hujan lebat.

Dari kejadian tersebut, saya melihat ada dua cara pandang orang di dunia ini:

1. Orang yang melihat apa yang dia inginkan.

2. Orang yang melihat penghalang dari apa yang dia inginkan.

Saya hanya melihat martabaknya, sedangkan teman saya melihat hujannya.

Itulah salah satu faktor terbesar yang memperlambat proses meraih kesuksesan.

Kita terlalu sibuk berfokus pada masalah dibandingkan solusi.

Anda tidak akan menjadi sukses, jika berfokus pada resiko yang akan Anda hadapi.

Anda tidak akan memiliki banyak uang, jika Anda berfokus pada kekurangan uang.

Anda tidak akan bisa berhenti merokok, jika Anda berfokus pada rokok.

Anda tidak akan bisa move on, jika Anda berfokus pada orang yang membuat Anda tersakiti.

Anda tidak akan bisa menurunkan berat badan, jika Anda berfokus pada kelebihan berat badan.

Itulah yang disebut dengan SALAH FOKUS.

Jika Anda ingin sukses, berfokuslah pada apa yang Anda inginkan, bukan penghalang dari apa yang Anda inginkan.

 

Pelajaran #4: Ambil tanggung jawab penuh atas tindakan Anda

Pada tahun 2014, saya berkesempatan mendaki gunung Marapi Sumatera Barat bersama rekan saya.

Gunung tersebut memiliki ketinggian 2.891 mdpl dan dibutuhkan waktu 6-7 jam pendakian untuk sampai ke cadas dan disanalah kita camping untuk siap summit attack esok harinya.

Setelah melakukan pendakian selama 7 jam, tentu saja enengi terkuras habis dengan memikul beban seberat kurang lebih 20kg.

Untuk memulihkan tenaga, tentu saja tidak bisa dengan hanya memakan mie instan, melainkan harus dibantu dengan nasi.

Saya pun meminta rekan saya untuk memasak nasi, sedangkan saya menyiapkan lauk pauknya.

Rekan saya pun bersegera mengambil beras dan air untuk memasak nasi.

Beberapa saat kemudian, nasi yang dimasakpun mentah.

Rekan saya mengira itu disebabkan karena kekurangan air, lalu dia menambahkan air secukupnya.

Beberapa saat kemudian, nasi yang di masak masih mentah.

Lalu dia menambahkan air lagi, dan nasi tersebut sudah hampir menjadi bubur dan tetap saja mentah.

Lalu dia menyalahkan air yang dingin seperti es dan beras yang lembab terkena embun yang menyebabkan nasinya mentah.

Lalu saya menanggapinya: Bukan, masalahnya bukan karena air yang dingin seperti es ataupun karena berasnya lembab terkena embun, melainkan kamulah masalahnya.

Merasa tidak puas dengan tanggapan saya, dia pun menanyakan kepada pendaki-pendaki yang lain tentang nasi yang mereka masak.

Dan semua pendaki yang dia tanyakan mengalami masalah yang sama, yaitu nasinya mentah.

Kemudian dia berusaha meyakinkan saya kembali, bahwa semua pendaki mengalami masalah yang sama.

Saya pun menanggapi dengan kalimat yang sama “Kamulah masalahnya” sambil tersenyum.

Masih ingin meyakinkan saya, dia pun menghangatkan beras dengan kompor dan memasak air panas secukupnya untuk memasak nasi lagi.

Kemudian, dia pun memasak nasi dengan beras yang telah dihangatkan dan air yang telah dipanaskan.

Beberapa saat kemudian, lagi-lagi nasi yang dimasaknya mentah dan terlihat frustasi diwajahnya.

Kemudian dia mengutarakan keluhan:

“Saya tidak tahu apalagi masalahnya, mengapa nasi ini masih mentah. Padahal saya telah menghangatkan berasnya dan memasaknya dengan air panas.”

Lalu saya menanggapi dengan kalimat yang sama: “KAMULAH MASALAHNYA.”

Dia pun menjawab: Bukan saya yang salah, semua pendaki mengalami masalah yang sama.

Saya pun tersenyum.

Keesokan harinya, saya bangun lebih awal dan dia pun ikut terbangun melihat saya menghidupkan senter.

Saya pun memustuskan untuk memasak nasi dengan air sedingin es dan beras yang lebih lembab dari sebelumnya, mengingat itu pukul 03.30 WIB dengan suhu 9 derajat celcius.

Rekan saya pesimis dan mengira saya tidak akan berhasil.

Saya pun pergi keluar tenda dan memasak nasi di tengah kedinginan.

Dibutuhkan waktu kurang lebih 40 menit bagi saya untuk memasak nasi tersebut dan saya berhasil.

Nasi yang saya masak tidak mentah sedikitpun dan rekan saya kaget bagaimana bisa nasinya tidak mentah sementara semua pendaki yang dia tanyakan mengalami masalah yang sama.

Dia pun bertanya kepada saya “Bagaimana kamu melakukannya?”.

Saya menjawab “Saya mengecilkan apinya disaat airnya mulai mendidih.”

Dia pun membantah “Bagaimana mungkin dengan api kecil bisa membuat nasinya masak dengan sempurna, sedangkan dengan api besar saja tidak dapat membuatnya masak.”

Setelah kejadian itu, dia membenci saya selama 3 tahun dan mengatakan saya mengada-ngada dengan mengecilkan apinya.

Pada Agustus 2017, saya menerima inbox darinya di facebook dan dia mengatakan:

Kamu benar, sayalah masalahnya.

Pada tanggal 17 Agustus 2017 kemaren, saya mendaki bersama tim saya ke gunung Singgalang.

Saya memutuskan untuk memasak nasi dan mengecilkan apinya saat airnya mulai mendidih dan nasinya masak dengan sempurna.

Ternyata dengan mengecilkan apinya disaat airnya mulai mendidih, dapat membuat airnya menyusut lebih lama dan menciptakan lebih banyak uap dan uap itulah yang membuat nasinya mateng dengan sempurna.

Itulah pengakuan darinya.

Intinya adalah, ambil tanggung jawab penuh atas tindakan yang Anda lakukan.

Jangan menyalahkan situasi dan kondisi atas kegagalan Anda.

Dengan mengambil tanggung jawab penuh atas tindakan Anda, Anda memiliki kontrol penuh atas diri Anda dan itulah hal yang benar yang seharusnya dilakukan.

Anda tidak bisa menyalahkan pemerintah yang tidak amanah atas kesulitan ekonomi yang Anda alami, karena itu merupakan sesuatu yang tidak dapat Anda kontrol.

Berfokuslah pada sesuatu yang bisa Anda kontrol, dan jangan menyalahkan sesuatu yang tidak dapat Anda kontrol.

 

Pelajaran #5: Berhentilah bertingkah seperti korban

Kenapa aku terus yang disalahkan;

Kenapa selalu aku tersakiti;

Kenapa aku terus yang di bully;

Kenapa aku terus miskin dan orang lain semakin kaya;

Kenapa dia naik jabatan, saya tidak.

Itulah yang disebut dengan berprilaku seperti korban.

Anda tidak akan bisa meraih kesuksesan jika Anda terus bertingkah seperti korban.

Bertingkah seperti korban tidak akan menyelesaikan masalah Anda, melainkan akan menambah masalah Anda dan meningkatkan stres Anda.

Orang yang berprilaku seperti rusa akan terus dimangsa oleh singa.

Jika Anda tidak ingin dimangsa oleh singa, berhentilah bertingkat seperti rusa.

Jika Anda ingin berhasil dan menjadi pemenang, berhentilah bertingkah seperti korban.

Keluarlah dari zona korban!

Ubahlah mindset Anda dari Fixed Mindset menjadi Growth Mindset!

Ganti lagu Anda dari mellow menjadi rock!

Ganti film Anda dari drama korea ke film action!

Miliki hobi yang memacu adrenalin seperti: mendaki gunung, olahraga, panjat tebing, paragliding, dan sejenisnya.

 

Pelajaran #6: Fokus pada satu langkah berikutnya

Sukses adalah permainan jangka panjang, dibutuhkan waktu yang lama untuk mencapai kesuksesan.

Rata-rata pengusaha sukses membutuhkan waktu minimal 5-10 tahun untuk meraih kesuksesan yang mereka inginkan.

Jika Anda berfokus pada berapa banyak anak tangga yang harus Anda lalui menuju puncak, itu akan menjadi ketakutan yang nyata bagi Anda.

Janganlah berfokus pada seberapa banyak anak tangga yang akan Anda lalui, melainkan berfokuslah pada satu anak tangga berikutnya.

Disaat Anda sampai pada anak tangga berikutnya, lihat lagi satu anak tangga berikutnya, dan begitu seterusnya.

Tanpa disadari, cepat atau lambat Anda akan mencapai puncak.

 

Pelajaran #7: Kerja keras pada profesi yang tepat

Beberapa bulan yang lalu saya mendapat keluhan dari seorang karyawan swasta yang mengeluhkan telah bekerja keras tetapi masih mendapatkan hasil yang sama.

Dan menerima gaji yang sama dengan rekan kerjanya yang tidak bekerja keras.

Kemudian dia mengatakan bahwa kerja keras bukanlah kunci dari kesuksesan.

Lalu saya mengatakan fakta berikut kepadanya:

“Tidak ada orang sukses didunia ini yang tidak bekerja keras.”

Mungkin mereka terlihat seperti tidak bekerja keras, tetapi mereka bekerja sangat keras di tahun-tahun awal ketika mereka memulai bisnis mereka.

Bekerja keras di profesi yang salah, tidak akan membuat Anda sukses. Tetapi, bekerja keras di profesi yang tepatlah yang membuat Anda sukses.

Jika Anda seorang karyawan biasa yang dibayar 3 juta perbulan, bekerja keras tidak akan membuat Anda sukses.

Hal ini disebabkan oleh: Anda memiliki batas pendapatan yaitu 3 juta perbulan.

Anda bekerja sekeras apapun tetap saja dibayar 3 juta perbulan.

Itu artinya Anda bekerja keras di profesi yang salah.

Sama halnya dengan kuli bangunan yang di bayar 70 ribu rupiah per hari.

Dia bekerja sekeras apa pun, tetap saja menerima pendapatan 70 ribu perhari.

Lain halnya jika Anda seorang pengusaha.

Semakin Anda bekerja keras, maka semakin berkembang usaha Anda dan semakin banyak uang yang Anda hasilkan.

Itulah yang disebut dengan bekerja keras di profesi yang tepat.

 

Kesimpulan:

Tetaplah lapar, tetaplah bodoh akan membuat Anda terus berusaha dan terus tumbuh.

Visi merupakan arah hidup Anda. Jika Anda tidak memiliki visi yang jelas, itu artinya Anda tidak memiliki arah hidup yang jelas.

Berfokuslah pada apa yang Anda inginkan, bukan penghalang dari apa yang Anda inginkan.

Dengan mengambil tanggung jawab penuh atas tindakan Anda, Anda memiliki kontrol penuh atas diri Anda.

Jika Anda ingin berhasil dan menjadi pemenang, berhentilah bertingkah seperti korban.

Janganlah berfokus pada seberapa banyak anak tangga yang akan Anda lalui, melainkan berfokuslah pada satu anak tangga berikutnya.

Bekerja keras di profesi yang salah, tidak akan membuat Anda sukses. Tetapi, bekerja keras di profesi yang tepatlah yang membuat Anda sukses.


#Mindset #Inspirasi #Sukses #Motivasi #Kehidupan

Share:

Comments

Leave a comment