Loading...

4 Fakta Unik Steve Jobs Yang Wajib Anda Ketahui

Siapa yang tidak kenal dengan Steve Jobs. Founder dan CEO perusahaan Apple, Inc dari tahun 1955-2011.

Jobs memulai perusahaan Apple dengan dengan temannya Stephen Wozniak, seorang ahli elektronik yang bekerja untuk perusahaan HP (Hewlett Packard).

Jobs memulai perusahaan Apple di sebuah garasi dirumahnya. Dalam kurun waktu 10 tahun Apple berubah dari hanya 2 orang (Jobs dan Woz) dalam garasi menjadi perusahaan dengan 4.000 karyawan.

Steve Jobs merupakan visioner teknologi yang merubah peradapan di abad ke-21 ini. Jobs sering disebut sebagai Thomas A. Edison di abad ke-21, berkat talenta yang dimilikinya.

Dilain sisi, terdapat fakta unik tentang Steve Jobs. Apa sajakah itu?

Berikut 4 fakta unik dibalik seorang Steven Paul Jobs:

 

Fakta 1: Ditelantarkan dan terpilih

Steve Jobs dilahirkan di San Francisco 24 Februari 1955 dari rahim seorang wanita bernama Joanne Schieble. Seorang wanita penganut Katolik, tidak menikah, dan masih berstatus mahasiswa.

Joanne berhubungan dengan Abudulfattah Jandali (Ayah kandung Steve Jobs) seorang asisten pengajar muslim asal Suriah di Universitas Wisconsin yaitu Universitas tempat Joanne dikuliahkan.

Jandali adalah bungsu dari sembilan bersaudara yang berasal dari sebuah kelauarga Suriah terkemuka.

Ayahnya memiliki kilang minyak dan beberapa bisnis lainnya, dengan sebagian besar asetnya berada di Damaskus dan Homs.

Pada musim panas 1954, 1 tahun sebelum Steve dilahirkan, Joanne pergi dengan Abdulfattah ke Suriah.

Mereka menghabiskan waktu dua bulan di Homs, tempat Joanne belajar masak makanan Suriah dari keluarga Abdulfattah.

Ketika mereka kembali ke Wisconsin, Joanne mendapati dirinya hamil. Mereka berdua baru berusia 23 tahun, tetapi mereka memutuskan untuk tidak menikah.

Ayah Joanne sedang sekarat waktu itu, dan dia telah mengancam tidak mau mengakui Joanne sebagai putrinya jika Joanne menikah dengan Abdulfattah.

Aborsi juga bukan suatu pilihan yang mudah dalam sebuah komunitas Katolik kecil. Jadi pada awal tahun 1955, Joanne pergi ke San Francisco, tempat dia dirawat oleh dokter baik hati yang menampung para ibu tidak menikah, membantu kelahiran bayi mereka, dan secara diam-diam mengatur adopsi secara tertutup.

Joanne memberikan persyaratan, yaitu anaknya harus diadopsi oleh lulusan perguruan tinggi.

Jadi, dokter tersebut mengatur agar bayi tersebut diadopsi oleh seorang pengacara dan istrinya.

Tetapi ketika anak laki-laki Joanne dilahirkan, ternyata calon orangtua tersebut memutuskan bahwa mereka menginginkan bayi perempuan dan mengurungkan niatnya.

Pada akhirnya, anak laki-laki tersebut tidak menjadi putra seorang pengacara, melainkan putra seorang pria putus sekolah menengan atas yang memiliki hasrat di bidang permesinan dan istri baik hatinya yang bekerja sebagai tenaga pembukuan.

Paul Jobs dan Clara Hagopian mengadopsi bayi laki-laki tersebut, dan berjanji akan menguliahkannya. Paul dan Clara memberi nama bayi baru mereka dengan Steven Paul Jobs.

 

Fakta 2: Putus Kuliah (Dropout)

Tujuh belas tahun kemudian, Paul dan Clara ingin memenuhi janjinya untuk menguliahkan Steve.

Mereka telah bekerja keras untuk menabung sedikit demi sedikit untuk membiayai kuliah Steve.

Jumlahnya sedikit, tetapi uang yang mereka kumpulkan akan cukup hingga dia lulus.

Akan tetapi Steve menjadi keras kepala, dan membuat semuanya menjadi sulit.

Ketika orangtuanya memaksanya kuliah, dia menanggapinya dan menyerang secara pasif.

Dia tidak mempertimbangkan perguruan tinggi negeri, seperti Universitas Berkeley yang biayanya lebih terjangkau.

Dia juga tidak memilih Universitas Standford, yang lokasinya hanya berada di ujung jalan dan Steve menganggap Anak-anak yang kuliah di Standford sudah tahu apa yang harus mereka lakukan, sehingga mereka tidak benar-benar artistik.

Alih-alih dia bersikeras hanya memilih satu perguruan tinggi, yaitu Universitas Reed (Reed College), sebuah universitas seni liberal swasta di Portland, Oregon, yang merupakan salah satu perguruan tinggi paling mahal di negara Amerika.

Ayahnya berusaha untuk membujuknya agar tidak kuliah ditempat itu. Ibunya juga melakukan hal yang sama. Biayanya jauh dari mampu bagi mereka bayar.

Tetapi Steve menanggapinya dengan memberikan ultimatum. Jika dia tidak bisa kuliah di Reed, dia tidak akan kuliah dimanapun.

Orangtuanya pun mengalah. Akhirnya Steve kuliah di Universitas tersebut.

Tak lama kemudian, Jobs merasa bosan dengan perkuliahan.

Dia senang belajar di Universitas Reed, asalkan tidak mengikuti kelas yang diwajibkan. Jobs menolak matakuliah yang diwajibkan.

Alih-alih, dia mengikuti matakuliah yang dia inginkan, seperti kelas menari, tempat dia dapat menikmati kreativitas dan kesempatan untuk bertemu dengan para gadis.

“Aku tidak tahu apa yang ingin aku lakukan dengan hidupku dan aku tidak tahu bagaimana perguruan tinggi akan membantuku menemukan jawabannya.

Di tempat ini, aku menghabiskan semua uang yang telah ditabung oleh orantuaku sepanjang hidup mereka. Jadi, aku memutuskan untuk keluar dari kuliah dan percaya bahwa semuanya akan baik-baik saja.”

-Steve Jobs, pidato kelulusan Standford 2005.


Fakta 3: Penganut Zen Buddha (Zen Buddism)   

Steve Jobs melakukan perjalanan spiritual bersama teman dekatnya Daniel Kottke ke India.

Jobs tidak sekedar termotivasi oleh petualangan. Baginya, itu adalah sebuah pencarian yang serius.

Dia sangat tertarik dengan masalah pencerahan dan usaha untuk mengenal diri sendiri, serta bagaimana menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitar.

Minat Jobs pada ajaran timur, yaitu ajaran Hindu, Zen Buddha, dan mencari pencerahan, bukan sekedar fase alami yang harus dilalui oleh anak berusia 19 tahun.

Sepanjang hidupnya, dia berusaha mengikuti banyak sekali ajaran dasar dari agama timur.

Misalnya, dia melakukan penekanan pada ajaran Prajna berdasarkan pengalaman, yakni melalui kearifan dan pemahaman kognitif yang dialami secara intuitif dengan cara memusatkan pikiran.

Sepulangnya ke Palo Alto, setelah tujuh bulan berada di perdesaan India, dia melihat sikap berlebihan dari Dunia Barat, serta kemampuannya untuk melahirkan pemikiran rasional.

Jika kau hanya duduk dan mengamati, kau akan melihat betapa gelisahnya pikiranmu.

Jika kau berusaha menenangkan pikiranmu, itu hanya akan membuatnya semakin parah.

Tetapi seiring berjalannnya waktu, pikranmu akan tenang. Dan ketika hal tersebut terjadi maka akan ada kesempatan untuk mendengarkan hal-hal yang lebih kecil.

Saat itulah intuisimu mulai berkembang dan kau mulai bisa melihat semuanya dengan lebih jelas. Kau juga akan merasa lebih berada di masa sekarang.

Pikiranmu melambat, dan kau akan melihat ruang yang sangat luas pada saat semua itu terjadi. Kau bisa melihat jauh lebih banyak dari yang kau bisa lihat sebelumnya. Inilah disiplin, kau harus mempratikkannya., Kenang Jobs.

 

Fakta 4: Dipecat dari Apple

Pada awal tahun 1983, Jobs dan Mike Markkula meminta Gerry Roche, seorang agen pencari tenaga kerja dan perusahaan terkenal, untuk mencarikan kandidat tenaga pemasaran, yang mengetahui tentang periklanan, dan penelitian pasar.

Orang itu juga harus memiliki budi bahasa yang baik sebab hal itu sangat dibutuhkan di Wall Street.

Roche membidik ahli pemasaran konsumen paling terkenal pada saat itu, John Sculley. Sculley adalah presiden direktur Pepsi-Cola milik perusahaan minuman ringan bersoda PepsiCo.

Akhirnya Sculley pun bergabung dengan perusahaan Apple.

Pada tahun pertama, semuanya berjalan dengan baik. Hingga terjadi perselisihan  besar pertama antara Jobs dan Sculley adalah mengenai penetapan harga Macintosh.

Komputer tersebut telah ditetapkan sebagai komputer dengan harga $1.000, tetapi karena perubahan desain yang dilakukan oleh Jobs telah membuat kenaikan biaya melambung sehingga rencananya mereka akan menjual komputer tersebut dengan harga $1.995.

Namun, ketika Jobs dan Sculley mulai merencanakan sebuah peluncuran dan recana pemasaran besar-besaran, Sculley memutuskan bahwa mereka harus menaikkan harganya sebesar $500, sehingga menjadi $2.495. Baginya, biaya pemasaran sama dengan biaya produksi lainnya dan harus dimasukan ke dalam perincian harga produk.

Jobs menolaknya, dengan penuh kemarahan. ”Harga itu akan menghancurkan semua yang telah kami perjuangkan,” Kata Jobs.

“Aku ingin membuat komputer ini sebagai sebuah revolusi, bukan upaya untuk memeras keuntungan.” Sculley mengatakan bahwa ini adalah pilihan sederhana, Jobs bisa menjualnya dengan harga $1.995 atau bisa mempersiapkan anggaran pemasaran untuk sebuah peluncuran besar. Namun, dia tidak memilih keduanya.

Pada saat itu, pihak dewan berpihak kepada Sculley.

Dan Jobs pun resmi dipecat dari Apple. Steve Jobs tidak dapat menahan amarahnya ketika mendapati dirinya di pecat dari perusahaannya sendiri.

Bahkan, 25 tahun kemudian, amarah Jobs masih mendidih ketika mengingat keputusan tersebut.

“Itulah penyebab utama penjualan Macintosh melambat dan Microsoft mendominasi pasar,” Ujar Jobs.

Keputusan tersebut membuatnya merasa telah kehilangan kendali terhadap produk dan perusahaannya, dan itu sama berbahayanya dengan seekor harimau merasa tersudut.  


#Inspirasi #Motivasi #Kehidupan

Share:

Comments

Leave a comment